Kemendukbangga/BKKBN Dorong Orangtua Pahami Nutrisi Anak Sesuai Tahap Usia Demi Wujudkan Generasi Emas 2045

Yogyakarta (18/5) – Komitmen membangun generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berkualitas kembali ditegaskan melalui penyelenggaraan TAMASYA di KERABAT Edisi Spesial Daerah Istimewa Yogyakarta dengan tema “Memahami Kebutuhan Nutrisi Spesifik Anak di Setiap Tahap Usia”. Kegiatan yang digelar oleh Perwakilan BKKBN DIY berkolaborasi dengan Direktorat Bina Ketahanan Balita dan Anak (Ditbalnak) ini menjadi ruang edukasi sekaligus penguatan literasi keluarga mengenai pentingnya pemenuhan gizi sejak dini sebagai fondasi utama pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.

Dalam sambutannya, Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK) menegaskan bahwa pemenuhan nutrisi anak bukan hanya isu kesehatan, namun juga investasi besar bangsa untuk masa depan. “Anak-anak hari ini adalah calon pemimpin bangsa di masa depan, oleh karena itu kualitas tumbuh kembang mereka harus menjadi perhatian bersama. Pemenuhan gizi yang tepat dan seimbang sejak dini merupakan fondasi utama membangun generasi yang sehat, kuat, cerdas, dan berkarakter” ungkapnya.

Melalui pendekatan pembangunan keluarga berbasis siklus hidup, Kemendukbangga/BKKBN terus memperkuat berbagai intervensi strategis, mulai dari masa pranikah, kehamilan, persalinan, hingga pengasuhan anak. Salah satu fokus utama berada pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yang dinilai sangat menentukan kualitas tumbuh kembang anak di masa depan. Pada fase tersebut, pemenuhan nutrisi ibu hamil, ibu menyusui, hingga anak usia dua tahun menjadi perhatian utama. Nutrisi yang tepat diyakini mampu mendukung perkembangan otak, pertumbuhan fisik, daya tahan tubuh, serta mencegah berbagai risiko kesehatan jangka panjang.

Kemendukbangga/BKKBN juga menyoroti pentingnya percepatan penurunan stunting sebagai bagian dari pembangunan keluarga berkualitas. Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2024, prevalensi stunting nasional berhasil turun menjadi 19, 8 persen. Capaian ini menunjukkan adanya kemajuan positif, namun upaya edukasi dan pendampingan keluarga tetap harus diperkuat. Dalam forum tersebut, peserta mendapatkan edukasi mengenai kebutuhan nutrisi anak sesuai tahapan usia. Pada usia 0-6 bulan, bayi dianjurkan memperoleh ASI eksklusif sebagai sumber nutrisi terbaik. Setelah usia enam bulan, anak mulai membutuhkan makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang bergizi seimbang untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan optimal.

Kegiatan ini menghadirkan praktisi kesehatan dan pemerhati nutrisi keluarga Dr. dr. Tan Shot Yen, M.Hum., sebagai narasumber utama. Diskusi dipandu oleh Dr. Mustikaningtyas, S.Psi., M.P.H., yang mengajak peserta memahami pentingnya pengasuhan kolaboratif dalam memenuhi kebutuhan gizi anak. Selain memberikan edukasi kepada orangtua, kegiatan ini juga memperkuat sinergi antara pemerintah, kader, tenaga kesehatan, pengelola TAMASYA, serta komunitas keluarga dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

Di akhir sambutannya, Deputi KSPK mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menciptakan lingkungan keluarga yang sehat dan suportif. “Mari kita wujudkan keluarga Indonesia yang semakin berkualitas melalui pengasuhan yang tepat, nutrisi yang baik, dan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal”, pungkasnya. Kegiatan TAMASYA di KERABAT Edisi Spesial Tahun 2026 ini diharapkan tidak hanya menjadi forum edukasi, tetapi juga mampu melahirkan agen perubahan di lingkungan masyarakat yang aktif mengkampanyekan pentingnya pemenuhan nutrisi anak sesuai tahap usia.

Penulis                 : Dessy Phawestrina

Editor                   : Yurniati

Dokumentasi    : Christin Aprilya Adam, Tiara Rosivanengtyas, Gunanto

Rilis                       : Senin, 18 Mei 2026

Post Terkait